Desa Tirongan Atas Adalah Salah Satu Desa Tua Yang Terletak diwilayah Kecamatan Bungku Utara,Kabupaten Morowali/Sulawesi tengah. Asal usul nama desa tirongan atas berawal dari sebutan makanan yang membusuk atau basi menurut bahasa penduduk sekitar(bahasa Taa) MARONGA,yang artinya Basi, Pada masa pemerintahan BASALI NGKUE,karena pada saat itu makanan sangat melimpah ruah sehingga banyak sisa makanan yang tidak dikonsumsi,karna pola pengolahan makanan yang masih primitif. Sehingga daerah tersebut penuh dengan aroma makanan yang membusuk (basi),maka daerah sekitar aliran sungai yang pada saat itu menjadi kawasan pemukiman di beri nama KRONGANG(pembusukan sisa makanan).
B.Sistem pemerintahan Dan Pembangunan.
Pada masa pemerintahan BASALI NGKUE,(1847-1887).FO’OMPOKE’ANG di ganti nama menjadi KRONGANG,karena pergeseran(pengungsian) penduduk akibat penjajahan BELANDA.Dan BASALI NGKUE membangun pemukiman dibagian timur dan dibagian utara Fo’ompoke’ang. sebutan KRONGANG sudah lazim di mulut masyarakat sehingga,menjadi sebutan nama pemukiman tersebut.serta pada saat itu juga di bangun MASJID,dalam bentuk panggung,sebagai sarana ibadah dan tempat memperdalam ilmu Agama.Lanjut daripada itu ,PEMERINTAHAN dijabat oleh BASALI YANO(1887-1907).Di jelaskan dalam sejarah,bahwa wilayah pemukiman penduduk tersebut,sangat subur tanahnya.kegiatan penduduk sekitar Daerah Aliran Sungai(DAS)yang menjadi pemukiman terbut adalah bercocok Tanam,pada umumnya Tanaman padi . Selanjutnya seiring Perubahan waktu dan kekuasaan takhta yang memerintah maka berubahlah nama “Krongang” itu Menjadi” Tirongan”(“sedikit penjelasan”Lengkapnya Nama TIRONGAN ATAS karena letaknya yang berada pada bagian hulu sungai tirongan(UNTU NGKRONGANG).dan di daerah pantai aliran sungai tirongan di mukimi oleh pendatang mayoritas bugis dan suku bajo yang pekerjaan seharianya melaut atau mencari ikan.dan ketika jumlah mereka bertambah dan mendirikan sebuah pemukiman dan menamakanya tirongan bawah,karna letaknya yang berada di bagian muara sungai tirongan(FINANGA NGKRONGANG).Pada masa pemerintahan BASALI BEKO atau sebutan akrabnya “BUE TENE”(1907-1946).sempat melakukan perluasan wilayah Desa meliputi Daerah Kondo,Uempanapa,Karawasa hingga sampai di hulu sungai FUATA yang sekarang wilayah Desa Lemowalia(Pemekaran dari desa salubiro tahun 2012).dalam rangka penyebaran Agama islam yang berpusat di Kampung TOMPONTETE(Fuata).
Kemudian pada tahun 1946-1954,masa pemerintahan ENDE META sudah menjadi sistem pemerintahan yang dikenal dengan istilah “KEPALA KAMPUNG”yang sebelumnya atau pemerintahan terdahulu masih dikenal dengan sebutan KEPALA LIPU yang di jabat langsung oleh BASALI (yang dipertuan agung alias Raja).di masa pemerintahanya tidak jelas sejarah pembangunanya.
Kemudian pada tahun 1954 kepala kampung ENDE META,Di Gantikan Oleh HAJIRANG masa pemerintahanya dari tahun 1954-1963.dan pada masa ini dilaksanakan pembangunan sekolah secara swadaya oleh masyarakat setempat.Lanjut pada tahun 1963-1971 kepala kampung hajirang digantikan oleh HAMA PERAS.pada masa ini sudah di lakukan penertiban lokasi pemukiman penduduk yang di tata teratur.dan mendatangkan warga-warga yang masi primitif untuk bermukim di desa induk (Tirongan Atas sekarang).akan tetapi warga tersebut tetap kembali pada tempat pemukimanya semula,karena sulit beradaptasi Dengan warga desa induk yang sudah berakidah(Menganut agama Islam) dan berintegrasi dengan masyarakat luas.